Hewan amfibi adalah hewan bertulang belakang yang hidup di dua alam — menghabiskan tahap awal hidupnya di air, lalu sebagian besar masa dewasanya di darat. Kata “amfibi” sendiri berasal dari bahasa Yunani amphi (dua) dan bios (kehidupan).
Katak, kodok, salamander, dan sesilia termasuk kelompok ini.
Ciri-Ciri Hewan Amfibi
- Kulit tipis, lembap, dan tanpa sisik. Ini ciri yang paling menentukan — sekaligus kelemahan terbesarnya.
- Bernapas dengan dua cara. Insang saat muda, paru-paru saat dewasa — ditambah pernapasan melalui kulit sepanjang hidupnya.
- Berdarah dingin (poikiloterm). Suhu tubuhnya mengikuti lingkungan.
- Bertelur di air tanpa cangkang keras, hanya berselaput lendir.
- Mengalami metamorfosis dari bentuk muda yang sangat berbeda.
- Berjari tanpa cakar dan umumnya berselaput pada jenis yang berenang.
Kenapa Kulitnya Penting
Kulit amfibi bukan sekadar pembungkus. Karena tipis dan berpori, kulit itu bisa menyerap oksigen dan air langsung dari lingkungan. Pada beberapa jenis salamander yang tidak punya paru-paru sama sekali, seluruh pernapasan bergantung pada kulit.
Tapi sifat yang sama membuat amfibi sangat rentan. Kulit yang menyerap oksigen juga menyerap polutan dan pestisida dari air. Itu sebabnya amfibi dipakai sebagai indikator kesehatan lingkungan — kalau populasi katak di sebuah daerah menurun drastis, biasanya ada masalah pada kualitas air atau tanah di sana.
Tiga Kelompok Amfibi
| Kelompok | Ciri | Contoh |
|---|---|---|
| Anura (tak berekor) | Dewasa tanpa ekor, kaki belakang panjang untuk melompat | Katak, kodok |
| Caudata (berekor) | Berekor sepanjang hidup, tubuh memanjang | Salamander, kadal air |
| Gymnophiona (tak berkaki) | Tanpa kaki, menyerupai cacing besar, hidup di tanah | Sesilia |
Di Indonesia, kelompok yang paling mudah ditemui adalah Anura. Sesilia ada tapi jarang terlihat karena hidup di dalam tanah lembap.
Beda Katak dan Kodok
Keduanya Anura, dan perbedaannya bukan taksonomi resmi melainkan kebiasaan penyebutan sehari-hari:
- Katak — kulit halus dan basah, tubuh ramping, kaki belakang panjang, lompatannya jauh, lebih dekat ke air
- Kodok — kulit kasar berbintil, tubuh gempal, kaki lebih pendek, berjalan atau melompat pendek, lebih tahan kering
Yang perlu diperhatikan di rumah: kodok puru punya kelenjar racun di belakang matanya. Tidak berbahaya kalau hanya dipegang lalu cuci tangan, tapi bisa fatal bagi anjing atau kucing yang menggigitnya.
Amfibi dan Rumah Anda
Katak dan kodok yang muncul di halaman umumnya menguntungkan — keduanya pemangsa serangga yang aktif. Satu ekor bisa memakan puluhan nyamuk, jangkrik, dan ngengat dalam semalam.
Yang perlu diwaspadai bukan hewannya, melainkan apa yang kehadirannya tunjukkan: amfibi butuh kelembapan dan genangan. Kalau mereka muncul terus, kemungkinan ada sumber air yang tidak disadari — talang mampet, alas pot yang selalu basah, atau bak terbuka. Genangan yang sama adalah tempat nyamuk berkembang biak.
Jadi solusinya bukan mengusir kataknya, tapi mengeringkan genangannya.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa yang dimaksud hewan amfibi?
Hewan bertulang belakang yang hidup di dua alam — tahap muda di air dengan insang, tahap dewasa di darat dengan paru-paru, ditambah pernapasan melalui kulit.
Apa saja contoh hewan amfibi?
Katak, kodok, salamander, kadal air, dan sesilia. Di Indonesia yang paling mudah ditemui adalah katak dan kodok.
Kenapa kulit amfibi harus selalu lembap?
Karena kulitnya ikut berfungsi sebagai alat pernapasan. Oksigen diserap melalui kulit yang basah, sehingga kulit yang kering membuat amfibi kesulitan bernapas.
Apa beda katak dan kodok?
Katak berkulit halus dan basah dengan kaki belakang panjang, lebih dekat ke air. Kodok berkulit kasar berbintil, bertubuh gempal, dan lebih tahan kering.
Apakah kodok di rumah berbahaya?
Bagi manusia umumnya tidak, cukup cuci tangan setelah memegangnya. Tapi kelenjar racun kodok puru bisa berbahaya bagi anjing dan kucing yang menggigitnya.







